![]() |
| Menegakkan Agama Allah. |
1. Niat yang Tulus dan Ikhlas
Suatu
amalan akan rusak dan tidak diterima apabila tidak dilakukan dengan niat ikhlas
karena Allah Ta’ala. Allah berfirman:
وَجَـٰهِدُواْ بِأَمۡوَٲلِڪُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكُمۡ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ......
...... dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S.at-Taubah:41).
وَجَـٰهِدُواْ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ ......
...... dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah:35)
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. Bersabda: “Allah menjamin orang yang
berjihad fisabilillah, tidak ada yang mendorongnya keluar dari rumahnya kecuali
jihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimatNya. Yakni, dengan memasukkannya ke
dalam surge atau mengembalikannya ke tempat tinggal yang ia keluar darinya
dengan membawa pahala atau ghanimah (rampasan perang). [1].
2. Meminta Izin kepada Kedua Orang Tua Sebelum Berangkat
Izin kepada
kedua orang tua berlaku untuk selain jihad fardhu ‘ain. Seseorang tidak boleh
berangkat berjihad tanpa meminta izin kepada kedua orang tuanya. Adapun untuk
jihad fardhu ‘ain, seperti jihad untuk mempertahankan negeri Muslim dari
serangan tentara kafir, maka tidak perlu meminta izin kepada kedua orang tua
atau yang selainnya untuk berjihad.
3. Bertaubat dari Segala Dosa Sebelum Berangkat
Hendaknya menyegerakan
bertaubat agar tidak berperperang dalam keadaan membawa dosa yang ia belum
bertaubat darinya yang mengakibatkan pertolongan Allah menjauh. Para mujahidin
adalah orang yang paling membutuhkan untuk bertaubat dan memohon ampunan untuk
meraih pertolongan Allah Ta’ala karena mereka berada di ujung kematian.
4. Mengerjakan Amal Shalih Sebelum berangkat
Diantara amal
shalih tersebut misalnya: taubat, sedekah, berbakti kepada kedua orang tua, dan
lain sebagainya.
5. Mempersiapkan Segala Sesuatu yang Diperlukan
Allah Ta’ala
berfirman:
وَأَعِدُّواْ
لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ۬ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ
تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّڪُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن
دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ
مِن شَىۡءٍ۬ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا
تُظۡلَمُونَ
Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang [yang dengan persiapan
itu] kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain
mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa
saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya [dirugikan]. (Q.S.Al-Anfal: 60) Rasulullah saw. Bersabda:
أَلآ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي
“Ketahuilah sesungguhnya
kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah
memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”[2].6. Mempersiapkan Bekal untuk Pasukan dan Mengurus Keluarga Mereka dengan Baik
Rasulullah
saw. Bersabda:
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barangsiapa mempersiapkan bekal untuk orang yang berperang di
jalan Allah, maka ia telah berperang dan barangsiapa yang mengurus keluarga
orang yang berperang di jalan Allah, maka ia telah berperang.” [3].7. Memilih Orang-Orang yang Paling Kuat dan Tangguh dalam Menghadapi Musuhi
Hendaknya
waliyyul ‘amri (pemimpin) memilih orang-orang yang pemberani, kuat, dan tangguh
dalam peperangan menghadapi musuh, disamping mereka adalah orang yang bertakwa
dan shalih. Demikian juga hendaknya memilih orang-orang yang berpengalaman dan
ahli dalam menggunakan senjata-senjata baru, mengerti tentang seluk-beluk
perang, memahami kondisi musuh, dan lain-lain.
8. Meneladani Nabi saw. dalam Berjihad
Salah satu
cara Rasul dalam berjihad adalah dengan menggunakan tipu muslihat jika khawatir
musuh mengetahui tujuan mereka. Sebab Nabi saw. Apabila hendak pergi berperang,
beliau saw. Berpura-pura berjalan ke arah lain. Misalnya juga memperdaya musuh
dengan cara apapun yang disyari’atkan. Sebab Nabi saw. Bersabda:
الْحَرْبُ خَدْعَةٌ
“Perang adalah
tipu muslihat.” [4].9. Amir (Pemimpin) Beserta Kaum Muslimin Melepas Keberangkatan Pasukan
Nabi saw.
Apabila hendak melepas keberangkatan pasukan, beliau bersabda:
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
“Aku titipkan
agama, amanah, dan penutup amal kalian kepada Allah.” [5].10. Memberikan Nasihat, Menyuruh Berbuat Taat, Meninggalkan Maksiat dan Menjelaskan Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Jihad
Apabila
melepas keberangkatan para sahabat ke medan perang, Nabi saw. Bersabda kepada
mereka:
أُغْزُوْا
بِاسْمِ اللهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قَاتِلُوْا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ
أُغْزُوْا وَلاَ تَغُلُّوْا وَلاَ تَغْدِرُوْا وَلاَ تُمَثِّلُوْا وَلاَ
تَقْتُلُوْا وَلِيْدًا وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوْكَ
فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلاَمِ
فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ
أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ
مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ
وَقَاتِلْهُمْ
“Berperanglah
dengan nama Allah, di jalan Allah, dan perangilah
orang-orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah dan jangan
menyembunyikan
harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang musuh, dan
jangan
membunuh anak-anak. Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kaum
musyrikindakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka
jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah
(tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka
menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap
mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka
dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah
(tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah
pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka” [6].11. Tidak Takjub dengan Banyaknya Jumlah Pasukan
Allah
Ta’ala berfirman kepada kaum Mukminin
وَيَوۡمَ
حُنَيۡنٍۙ إِذۡ أَعۡجَبَتۡڪُمۡ كَثۡرَتُڪُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنڪُمۡ
شَيۡـًٔ۬ا وَضَاقَتۡ عَلَيۡڪُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم
مُّدۡبِرِينَ (٢٥) ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُ ۥ عَلَىٰ
رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
... (dan [ingatlah] peperangan Hunain, yaitu
di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang
banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu
telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.
(25) Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada
orang-orang yang beriman,.... (Q.S. at-Taubah: 25-26).
12.Pasukan Menjaga Adab-Adab Safar
Diantara
adab safar adalah: berkumpul ketika hendak tutun ke jalan, tolong-menolong,
saling menyayangi, dll.
13. Mentaati Amir Selama Bukan dalam Maksiat
Mentaati amir
(pemimpin) termasuk perkara yang sangat penting
yang wajib dilaksanakan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Ketika
sebagian kaum Muslimin membangkang perintah Nabi saw. Pada perang Uhud, hal itu
pun menyebabkan malapetaka.
14. Mengharapkan Mati Syahid dengan Sungguh-Sungguh
Nabi saw.
Bersabda: “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku
berangan-angan dapat terbunuh di jalan Allah, lalu aku dihidupkan, lalu
terbunuh, lalu dihidupkan, lalu terbunuh, lalu dihidupkan, lalu terbunuh.” [7].
15. Pemimpin Bermusyawarah dengan Pasukan
Allah
Ta’ala berfriman: (Q.S.Ali-Imran: 159)
16. Pemimpin Mengirim Mata-Mata dan Spionase
Hal ini akan
membantu pemimpin pasukan untuk memilih strategi perang yang tepat. Rasulullah
saw. Juga melakukan hal itu. Beliau mengirim Busaisah untuk memata-matai
kafilah Abu Sufyan. [8].
17. Tidak Mengharap Bertemu Musuh
Rasulullah
saw. Melarang kita berharap bertemu dengan musuh dengan sabdanya:
لَا
تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ تَعَالَى الْعَافِيَةَ
فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ
ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِي
السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ
“Janganlah
kalian
berharap bertemu dengan musuh. Namun, jika kalian bertemu dengan
mereka,
maka bersabarlah., & ketahuilah bahwa Surga di bawah naungan pedang.
Kemudian beliau berdoa: Ya Allah, Yang menurunkan Al Qur'an, Yang
menjalankan awan, & Yang mengalahkan kelompok-kelompok musuh,
kalahkan mereka & menangkan kami atas mereka!” [9].18. Menampakkan Kekuatan di Depan Musuh
19. Berdo’a Sebelum Berperang
Sesungguhnya
apabila berperang Nabi saw. Berdoa:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ عَضَدِيْ وَأَنْتَ نَصِيْرِيْ بِكَ أَحُوْلُ وَبِكَ أَصُوْلُ وَبِكَ أُقَاتِلُ
“Ya Allah, Engkau adalah pelindungku dan
penolongku. Dengan-Mu aku bergerak, menyerang dan berperang.”[10].20. Memulai Perang pada Pagi Hari atau Ketika Matahari Tergelincir
21. Sambil Berdzikir ketika Berperang
Allah
Ta’ala berfirman: (Q.S. al-Anfal: 45)
Adapun Adab-adab selanjutnya cukuplah kalau saya tuliskan inti substansinya saja, sbb.:
22. Teguh
Menghadapi Musuh dan Tidak Melarikan Diri
23. Diam
dan Tidak Berbicara ketika Berhadapan dengan Musuh
24.
Berusaha Mengumpulkan Jumlah yang Disebutkan dalam hadits Nabi saw.
25.
Bertawakkal, Yakin serta mengharapkan
Pertolongan-Nya.
26. Mencari
Pertolongan dengan Berniat Menolong Agama Allah
27. Tidak
Melakukan Tamsil (Merusak Jasad Musuh yang Tewas)
28. Tidak
Membunuh Kaum Wanita, Anak-Anak, dan Orang yang Lemah
29. Berlaku
Baik kepada Tawanan
30. Membagi
Tugas dai Antara Anggota Pasukan
31. Mujahid
Memiliki Akhlak lebih Mengutamakan Orang Lain.
32. Tidak
Merusak Negeri yang Berhasil Ditaklukkan
33. Tidak
Melakukan Ghulul
34. Tidak
Melakukan Nuhbah
35. Tidak
Melanggar Perlindungan yang Diberikan Seorang Muslim.
36.
Menepati Perjanjian dan Tidak Berkhianat
37. Jika
Pasukan Berdamai dengan Musuh
38. Tidak
Berpaling dan melarikan Diri dari Pertempuran
39. Menyeru
Musuh kepada Salah Satu dari Tiga Perkara
40. Tinggal
di Negeri Musuh setelah Mendapatkan Kemenangan
41. Tidak
Memisahkan Ibu dan Anaknya yang Tertawan
42.
Mengikuti Karunia Allah ketika Mendapatkan Kemenanagan
43. SujudSyukur Ketika Mendapat Kemenangan
44.
Pemimpin Mengirim Utusan Menyampaikan Kabar Kemenangan Kepada Kaum Muslimin.
45. Kaum
Muslimin Keluar untuk Menyambut para Mujahidin yang Kembali.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar