Anda sekalian pasti sering denger kalau Nabi suka banget sama
kucing, tapi emang Nabi sangat sayang semua binatang dan mereka semua
diperlakukan baik oleh Nabi.
Banyak kisah-kisah tentang kucing (karena kucing memang binatang yang
banyak berkeliaran disekitar manusia). Bahkan Nabi juga memiliki kucing
peliharaan. Setiap Nabi menerima tamu di rumah, Nabi SELALU ngegendong
mueeza (nama kucingnya) dan diletakkan dipahanya. Nabi bahkan berpesan
untuk menyayangi kucing peliharaan layaknya menyanyangi keluarga
sendiri.
Salah satu sifat Mueeza yang paling Nabi suka: ‘Mueeza selalu mengeong
ketika mendengar azan, seolah-olah ngeongnya kaya ngikutin lantunan
suara adzan‘
Terus, pernah juga saat Nabi mau mengambil jubahnya, eh.. ada Muezza
lagi tidur diatasnya.. Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri
Mueeza dari jubahnya, tujuannya supaya gak ngebangunin Muezza.
Pas Nabi pulang ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk kepada
majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan
mengelus lembut ke badan kucing itu. Nabi menekankan di beberapa
hadisnya bahwa kucing itu tidaklah najis. Bahkan diperbolehkan untuk
berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.
Lantas kenapa Rasulullah Saw yang Ummiy, berani mengatakan bahwa kucing
suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan
kucing tidak terdapat najis?